About Perdania

Presiden Direktur
Presiden Direktur
Ichiro Hiramatsu

Para Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan yang Terhormat,

Pertama-tama, karena pandemi COVID-19 terus menyebar ke seluruh dunia, saya ingin menyampaikan harapan terbaik saya kepada semua orang yang terkena dampak. Saya juga berterima kasih kepada semua pekerja penting yang telah berusaha sekuat tenaga untuk menyediakan layanan medis dan mempertahankan fungsi sosial. Sebagai Presiden Direktur, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan atas kontribusinya dalam menjaga layanan keuangan penting melalui operasi bisnis kita.

Atas nama Direksi Bank Resona Perdania (“Bank”), perkenankan saya menyampaikan pencapaian kinerja Bank untuk tahun buku 2020. Tahun 2020 merupakan tahun yang penuh tantangan dan saya bersyukur Bank dapat melalui tahun ini dengan pencapaian kinerja bisnis dan finansial yang positif. Dalam kondisi yang menantang akibat dampak pandemi COVID-19, Bank secara konsisten memberikan pelayanan terbaik kepada para nasabah dan tetap berupaya mencapai target yang telah ditetapkan melalui strategi pengelolaan kualitas aset produktif, pengelolaan sumber pendanaan dan efisiensi biaya operasional.

Bank senantiasa mendukung program Pemerintah Indonesia dalam mengurangi dampak pandemi dengan menjalankan program restrukturisasi kredit bagi nasabah terdampak untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

TINJAUAN EKONOMI DAN PERBANKAN 2020

Selama tahun 2020, perekonomian global dipengaruhi pandemi COVID-19 dan cara penanggulangannya. Pandemi ini telah menyebabkan resesi ekonomi dunia dan menimbulkan risiko ketidakpastian di pasar keuangan.

International Monetary Fund (IMF) merilis pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 terkoreksi secara signifikan sebesar minus 3,3% dan World Bank menyatakan bahwa resesi menjadi yang terdalam di negara maju sejak Perang Dunia II dan kontraksi output pertama di negara berkembang dalam enam dekade terakhir.

Untuk mencegah kontraksi yang berlanjut, sejumlah negara maju dan berkembang meningkatkan stimulus moneter dan fiskal. Bank Sentral di sejumlah negara menerapkan kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan antara lain melalui penurunan suku bunga. Dalam pertemuan Federal Open Market Committee yang digelar pada pertengahan Desember 2020, Bank Sentral Amerika Serikat atau yang dikenal sebagai Federal Reserve System (the Fed) memutuskan untuk menjaga kisaran target suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 0% hingga 0,25%.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik,(BPS), Indonesia mengalami resesi ekonomi setelah dua kuartal berturut-turut, yaitu kuartal III 2020 dan kuartal IV 2020, dengan kontraksi masing-masing sebesar 3,49% dan 2,19%. Selaras dengan resesi, laju inflasi mencapai titik terendah sebesar 1,68%. Sedangkan nilai tukar Rupiah cenderung melemah.

Untuk memulihkan perekonomian, Pemerintah Indonesia meluncurkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Melalui program ini, diharapkan risiko kesehatan dan ekonomi dapat cepat teratasi. Dalam program PEN, Pemerintah antara lain memberikan subsidi bunga untuk UMKM terdampak.

Di sektor perbankan dan jasakeuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan sejumlah kebijakan relaksasi untuk mendorong stabilitas industri dalam menghadapi pandemi. Kebijakan tersebut antara lain diterapkan melalui program restrukturisasi kredit, penundaan pelaksanaan Basel III dan sejumlah kebijakan relaksasi lainnya.

Dalam kaitannya dengan imbas dari pandemi terhadap kinerja industri perbankan, melansir data OJK, tahun 2020 tercatat laba setelah pajak turun sebesar 33,08% year on year (YoY) menjadi Rp104,72 triliun. Penurunan laba ini tidak lepas dari melambatnya penyaluran kredit menjadi sebesar Rp5.547,62 triliun, menurun 2,40% YoY. Perolehan dana pihak ketiga (DPK) meningkat sebesar 11,11% YoY menjadi Rp6.665,39 triliun.

Likuiditas dan permodalan perbankan tetap berada di level aman. Rasio alat likuid/non-core deposit sebesar 146,72% dan liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 265,49%. Permodalan bank (CAR) tercatat sebesar 23,78% yang dinilai cukup memadai dalam menghadapi risiko.

STRATEGI DAN KEBIJAKAN BANK

Dalam dinamika perekonomian dan industri selama tahun 2020, Bank telah menjalankan sejumlah strategi dan kebijakan untuk menjaga kelangsungan usaha yang berkelanjutan. Bank memiliki target pasar penghimpunan dana dan penyaluran kredit yaitu segmen korporat baik untuk korporasi Jepang maupun korporasi lokal.

Strategi dan kebijakan yang dilakukan Bank selama tahun 2020 diantaranya yaitu:

PERKREDITAN

  • Berkomitmen memberikan dukungan kepada para debitur yang terdampak COVID-19, melalui stimulus kredit yang merujuk kepada skema stimulus PEN.
  • Peningkatan kualitas kredit dengan penyaluran kredit yang memperhatikan prinsip kehati–hatian.
  • Pengelolaan kredit bermasalah dan pengoptimalan tingkat pengembalian dari kredit bermasalah dan kredit yang dihapus buku melalui restrukturisasi kredit dan penjualan aset jaminan debitur untuk proses penyelesaian.
  • Pemberian kredit kepada UMKM yang dilakukan sesuai kemampuan Bank sebagai bank korporasi.
  • Berpartisipasi dalam mendukung sektor ekonomi yang menjadi prioritas kebijakan pemerintah Indonesia, khususnya kelautan, pertanian, pariwisata, dan infrastruktur.

Secara khusus untuk infrastruktur, Bank tetap berupaya mengembangkan kredit sindikasi melalui kerjasama dengan bank lain serta lembaga keuangan multilateral lainnya.

PENDANAAN
Bank mengoptimalkan sumber pendanaan yang dimiliki dengan meminimalisasi jumlah dana menganggur serta menurunkan jumlah pendanaan yang berbiaya mahal. Hal tersebut dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan rasio Net Interest Margin (NIM) dengan tetap menjaga rasio likuiditas Bank.

PERMODALAN
Peningkatan jumlah permodalan Bank dengan menjaga pencapaian kenaikan profit, meningkatkan kualitas kredit, bekerja sama dan bersinergi dengan seluruh pemegang saham untuk terus mengembangkan strategi pertumbuhan bisnis, dan mengendalikan pembayaran dividen pada tingkat yang wajar dan dapat diterima oleh pemegang saham.

PENGEMBANGAN BISNIS

  • Mempertahankan model bisnis dengan porsi portofolio kredit kepada perusahaan Jepang dan Lokal pada komposisi yang seimbang.
  • Meningkatkan jumlah dan pangsa pasar nasabah corporate banking, baik nasabah korporasi Jepang maupun korporasi lokal melalui sistem pemasaran yang efektif serta dengan memberikan dukungan kepada nasabah melalui penawaran produk perbankan yang dibutuhkan oleh nasabah.
  • Meningkatkan fungsi kantor cabang sebagai profit center sehingga dapat mendukung pencapaian rencana bisnis Bank.
  • Melakukan beberapa aktivitas baru sebagai upaya diversifikasi bisnis dengan menjadikan Bank sebagai pemberi referensi terhadap produk pihak ketiga.

KEUANGAN BERKELANJUTAN
Menerapkan aksi keuangan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan daya tahan dan daya saing Bank sehingga mampu tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan serta berkontribusi pada komitmen nasional atas permasalahan pemanasan global. Penerapan dilakukan melalui pengembangan kapasitas intern Bank, penyesuaian organisasi, manajemen risiko, tata kelola, standard operational procedure dan/atau pengembangan produk/jasa keuangan berkelanjutan.

RENCANA RELOKASI KANTOR PUSAT
Bank melanjutkan proses persiapan relokasi kantor pusat ke gedung baru di Jl. Jend. Sudirman Kav. 40-41, Jakarta Pusat.
Dengan relokasi ini diharapkan Bank dapat memberikan kualitas pelayanan yang lebih baik kepada para nasabah.

AKTIVITAS UTAMA
Selama tahun 2020, Direksi memiliki aktivitas utama yaitu menjalankan kegiatan operasi Bank sehari-hari dan memimpin Perseroan dalam mencapai maksud dan tujuan serta kegiatan usaha yang telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar Perseroan. Direksi juga bertanggung jawab terhadap kepengurusan bisnis Bank dan merealisasikan Rencana Bisnis Bank tahun 2020 yang telah ditetapkan.

PRODUK DAN LAYANAN JASA YANG DITAWARKAN
Produk dan jasa yang diberikan kepada nasabah korporasi meliputi dana pihak ketiga, pinjaman termasuk pinjaman UMKM, treasury, trade finance, transaksi pembayaran antar bank/transfer, internet banking, dan lain-lain.

TINGKAT SUKU BUNGA PENGHIMPUNAN DAN PENYEDIAAN DANA 
Selama tahun 2020, Bank menerapkan rata-rata tingkat suku bunga penghimpunan dan penyediaan dana sebagai berikut:

Deposito Berjangka

1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan
IDR 3,000% IDR 3,000% IDR 3,250% IDR 3,250%
USD 0,375% USD 0,381% USD 0,425% USD 0,425%

Jasa Giro

IDR Saldo≥ Rp100 juta Suku Bunga : 0,500%
USD Saldo≥ USD50.000 Suku Bunga : 0,010%
Kredit Suku Bunga Dasar Kredit Suku Bunga : 7,727%

JARINGAN KERJA DAN MITRA USAHA DI DALAM NEGERI

Selama tahun 2020, Bank memiliki jaringan kerja dan mitra usaha di dalam negeri antara lain:

  1. Panin Dai-ichi Life, sebagai mitra Bank dalam penyediaan Bancassurance dengan nama Smart Infinite Protection. Kerjasama ini telah terjalin sejak 5 Desember 2019.
  2. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), sebagai mitra Bank selaku pemberi jaminan kredit untuk debitur yang masuk dalam program restrukturisasi kredit COVID-19.Kerjasama ini telah terjalin sejak tanggal penandatanganan perjanjian antara LPEI dan Bank Resona Perdania bersama tiga bank lainnya pada tanggal 20 November 2020.

JUMLAH, JENIS, DAN LOKASI KANTOR
Kantor Pusat Bank berkedudukan di Jakarta, selain itu dalam memberikan pelayanan kepada para nasabah Bank memiliki 2 (dua) kantor cabang, yang masing-masing berlokasi di Surabaya dan Bandung serta 5 (lima) kantor cabang pembantu yang masing-masing berlokasi di Cikarang, Karawang, MM2100, Deltamas, dan Suryacipta.

KINERJA BANK 2020
Bank membukukan laba setelah pajak sebesar Rp66,88 miliar dan membukukan laba operasional sebesar Rp77,84 miliar, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2019 dikarenakan pada tahun 2020 terjadi penurunan beban penurunan nilai aset produktif sebesar 48,25%. Pendapatan bunga bersih dibukukan sebesar Rp481,77 miliar, meningkat 5,28% dibandingkan tahun 2019.

Total aset dan total kredit bersih masing-masing tercatat sebesar Rp16,16 triliun dan Rp10,41 triliun, jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2019, total aset dan kredit bersih mengalami penurunan, dimana penurunan aset sebesar 7,22% dan kredit bersih sebesar 12,18%. Penurunan aset dan kredit ini sehubungan dengan strategi Bank dalam menjaga kualitas aset produktifnya, dimana Bank melakukan pengurangan penyaluran kredit pada beberapa sektor ekonomi yang memiliki risiko tinggi, misalnya pada sektor pembiayaan dan sangat selektif dalam pemberian kredit baru. Selain itu penurunan kredit dikarenakan adanya pembayaran dari beberapa debitur.

Kinerja rasio keuangan Bank dapat terjaga dengan baik, di mana rasio kecukupan modal (CAR) Bank secara non konsolidasi tercapai sebesar 23,39%. Pencapaian ini masih jauh lebih tinggi dari yang dipersyaratkan oleh regulator. Rasio rentabilitas tercatat cukup baik dimana ROA Bank secara non konsolidasi tercapai sebesar 0,45% dan ROE Bank secara non konsolidasi tercapai 3,10%, sedikit mengalami penurunan dibandingkan tahun 2019. Rasio likuiditas juga tercatat cukup baik meskipun terdapat sedikit penurunan di tahun 2020 dibandingkan pencapaian di tahun 2019 di mana rasio LDR tercatat sebesar 97,77%. Sedangkan untuk rasio kualitas aset juga masih berada di bawah ketentuan regulator, tercatat NPL gross dan NPL net secara non konsolidasi masing-masing sebesar 2,64% dan 1,72%.

PERBANDINGAN TARGET DAN PENCAPAIAN
Sepanjang tahun 2020, Bank telah melalui berbagai tantangan dalam industri perbankan, khususnya akibat pandemi COVID-19 yang mempengaruhi perekonomian global dan nasional. Menghadapi situasi yang stagnan tersebut, Bank mengambil kebijakan untuk sangat berhati-hati dalam pemberian kredit, namun tetap mendukung para debitur khususnya para debitur yang terdampak COVID-19. Ekspansi kredit tidak dilakukan, tetapi Bank fokus pada pengelolaan kualitas aset produktif sehingga jika dibandingkan dengan Rencana Bisnis Bank secara individu total aset per tahun 2020 dicapai 92,04% dari target dan total kredit dicapai 89,00% dari target.

Dalam rangka meningkatkan kinerja profitabilitasnya, salah satu strategi yang dilakukan Bank adalah pengelolaan sumber pendanaan melalui penurunan sumber pendanaan yang berbiaya mahal dan meningkatkan sumber pendanaan yang berbiaya murah sehingga Bank dapat mencapai rasio NIM yang cukup baik. Pinjaman yang diterima pada tahun 2020 dicapai 57,71% dari target dan dana pihak ketiga dicapai 101,53% dari target.

Dari sisi kinerja rentabilitas, laba setelah pajak dicapai 155,85% dari target. Pencapaian laba setelah pajak ini dikarenakan pencapaian beban umum dan administratif, beban tenaga kerja, dan beban penurunan nilai aset keuangan dicapai di bawah dari target. Pencapaian laba setelah pajak yang melebihi target menyebabkan pencapaian yang baik dari rasio keuangan rentabilitas Bank di tahun 2020. Pencapaian yang baik juga terefleksikan pada rasio permodalan Bank yang dicapai lebih tinggi dari target.

KENDALA YANG DIHADAPI OLEH BANK DAN CARA PENYELESAIANNYA
Dalam pelaksanaan kegiatan operasional, Bank dihadapkan pada berbagai kendala, baik eksternal maupun internal. Terkait dengan kendala dari internal, Bank dihadapkan pada permasalahan tingkat pertumbuhan kredit, dimana pada tahun 2020, Bank membukukan penurunan kredit dibandingkan tahun 2019 yang menyebabkan rasio NPL gross mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2019. Penurunan kredit yang terjadi merupakan kebijakan dan strategi Bank dalam menghadapi kondisi pandemi COVID-19, dimana Bank mengambil kebijakan untuk tidak ekspansif dalam pemberian kredit dan fokus pada peningkatan kualitas kredit dengan pendekatan yang sangat hati-hati.

Bank terus berupaya menekan non performing loan (NPL) yang selama ini menjadi salah satu masalah sektor perbankan. Terkait optimalisasi pemulihan kredit bermasalah dan perbaikan kualitas kredit, sebelum tahun 2020 Bank telah memiliki 2 tim yang fokus pada permasalahan ini, yaitu 1). Ad-hoc Team of Monitoring and Immediate Recovery for Credit atau disingkat “ATOMIC” yang memiliki tugas dan fungsi utama untuk memperbaiki kualitas aset Bank. ATOMIC bertujuan untuk: (a) memaksimalkan pengembalian kredit dari kredit bermasalah yang dimiliki Bank dan yang sudah dihapus buku, (b) memelihara dan mengelola NPL gross dan NPL net, (c) mencegah timbulnya debitur bermasalah yang baru, dan 2). Special Working Team for Realization of Advance Credit Management (“STREAM”) yang memiliki fungsi untuk meningkatkan serta mewujudkan pengelolaan kredit Bank yang lebih baik. Aktivitas STREAM adalah melakukan peninjauan atas proses pemberian kredit dan alur kerja serta struktur organisasi perkreditan Bank.

Keterbatasan produk dan jasa yang dimiliki juga merupakan salah satu kendala yang dihadapi untuk dapat bersaing dalam industri perbankan maupun dengan perusahaan financial technology (Fintech). Para pelaku perbankan meningkatkan daya saing dan mencoba memenangkan kompetisi industri melalui perluasan segmen bisnis dan melakukan transformasi Teknologi Informasi untuk dapat menyediakan produk dan layanan yang bervariasi kepada nasabah.

Dalam menghadapi kendala tersebut, Bank meningkatkan pangsa pasar nasabah corporate banking, dengan memberikan pelayanan perbankan kepada para nasabah Resona Group, The Bank of Yokohama, Ltd. dan Daido Life Insurance Company. Selain itu, sebagai upaya diversifikasi bisnis, Bank juga berperan sebagai pemberi referensi terhadap produk pihak ketiga yang telah menjalin kerja sama, dalam bentuk 1). Referensi Bancassurance,
2). Referensi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Terkait kehadiran perusahaan Fintech, Bank telah melakukan proses persiapan dan studi secara komprehensif untuk penerbitan aktivitas baru berupa “Pemberian Kredit melalui Fintech”. Untuk mendukung pengembangan aktivitas baru ini Bank juga berkonsultasi dengan pihak pengendali Bank yaitu Resona Bank, Ltd. dan The Bank of Yokohama, Ltd. yang telah memiliki pengalaman bekerja sama dengan Fintech.

PROSPEK USAHA 2021
Perkembangan industri perbankan sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan masih akan menghadapi dampak pandemi. Vaksin yang telah didistribusikan diharapkan dapat mengurangi situasi ketidakpastian. Di tingkat global, kondisinya semakin kondusif untuk melakukan ekspansi meski masih diliputi ketidakpastian karena faktor risiko kesehatan. Perekonomian global pada 2021 diperkirakan tumbuh di kisaran 6,0%, meningkat setelah terkontraksi sekitar 3,3% pada 2020.

Perekonomian Indonesia 2021 diperkirakan terus membaik didukung kemajuan penanganan COVID-19 termasuk vaksinasi, pemulihan ekonomi global, serta stimulus dan penguatan kebijakan. Dengan berbagai faktor pendukung tersebut, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 meningkat di kisaran 4,8-5,8% dan memperkirakan inflasi yang rendah akan berlanjut dan tetap terkendali pada 2021 dalam kisaran sasaran 3,0±1%. Pada tahun 2021, pertumbuhan kredit dan DPK diperkirakan masing-masing 7-9%. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, nilai tukar Rupiah terhadap USD akan berada pada kisaran Rp14.900-Rp15.300.

Memasuki tahun 2021, Bank tetap menerapkan strategi bisnis yang prudent. Pada akhir tahun 2021, total kredit dan total aset ditargetkan masing-masing sebesar Rp11,83 triliun dan Rp16,29 triliun atau masing-masing mengalami pertumbuhan 9,41% dan 1,75% dari posisi aktual 2020. Laba setelah pajak pada tahun 2021 ditargetkan sebesar Rp42,86 miliar.

Tahun 2021 merupakan tahun perbaikan, dimana Bank bertujuan memberikan solusi terbaik yang memungkinkan kepada nasabah dengan meningkatkan kualitas produk serta perbaikan sumber daya manusia, proses dan prosedur bisnis. Sebagai langkah nyata pada tahun 2021 Bank akan menjalankan Program Kaizen yang memiliki sasaran laba dan bisnis yang berkelanjutan, yang dilakukan melalui perbaikan proses bisnis dan mengurangi biaya.

Pada tahun 2021, langkah strategis yang akan dilakukan Bank untuk mengoptimalkan peluang pertumbuhan bisnis adalah sebagai berikut:

  1. Melanjutkan arah strategi yang sebelumnya telah ditetapkan, untuk tahun 2021, adalah melakukan pembenahan (improvement) baik pada aspek operasional maupun organisasi, melakukan konsolidasi organisasi untuk memformulasikan model bisnis serta melanjutkan upaya diversifikasi bisnis, sumber pendapatan, produk dan layanan.
  2. Melanjutkan peran serta Bank dalam rangka PEN, dengan terus berkomitmen memberikan dukungan kepada nasabah debitur yang kegiatan bisnisnya terdampak pandemi COVID-19, antara lain dengan memberikan stimulus kredit yang merujuk kepada skema stimulus yang menjadi kebijakan Pemerintah.
  3. Melakukan evaluasi kinerja kantor cabang pembantu dan kantor cabang, dengan tujuan untuk mentransformasikan kantor cabang pembantu dan kantor cabang menjadi “new engine of growth” untuk pertumbuhan bisnis Bank.
  4. Terus meningkatkan sinergi atau kerja sama di antara pemegang saham, khususnya antara Resona Bank, Ltd., The Bank of Yokohama, Ltd., dan Daido Life Insurance Company untuk mengembangkan potensi bisnis yang ada.

HAL-HAL PENTING YANG DIPERKIRAKAN TERJADI PADA MASA MENDATANG
Perkembangan usaha Bank terkait dengan dinamika perekonomian yang di masa mendatang tergantung pada cara menangani pandemi. Secara material, Bank belum dapat menyampaikan hal-hal penting yang diperkirakan terjadi pada masa mendatang.

STRUKTUR ORGANISASI
Selama tahun 2020, Bank melakukan perubahan struktur organisasi, dimana dilakukan perubahan alur pengendalian dan pelaporan dari beberapa divisi dalam rangka peningkatan kualitas kinerja dari setiap divisi tersebut.

Struktur Organisasi per Desember 2020 dapat dilihat dalam bagian Profil Bank dalam Laporan Tahunan Bank.

SUMBER DAYA MANUSIA
Sampai akhir tahun 2020, Bank mempekerjakan sebanyak 319 karyawan.

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
Pelatihan Pengembangan kompetensi dilakukan dengan pelatihan dan pendidikan sesuai dengan kebutuhan organisasi dan tugas tanggung jawab karyawan yang bersangkutan. Pengembangan kompetensi bertujuan untuk membentuk SDM Bank yang unggul, kompeten dan berdaya saing global. Program pelatihan meliputi mandatory training, pelatihan fungsional/teknikal, dan soft skill. Total biaya pelatihan pada tahun 2020 sebesar Rp3,06 miliar

Karier dan Kepemimpinan
Untuk menjamin keberlangsungan usaha, Bank mengadakan program Officer Development Program (ODP), untuk menghasilkan dan mempersiapkan calon pimpinan Bank dimasa datang yang akan mengisi posisi di fungsi bisnis dan fungsi non-bisnis. Pada November 2020, program ODP angkatan 02 telah dimulai dengan total 10 (sepuluh) peserta. Program ini berlangsung selama 9 (sembilan) bulan dan kedepannya para lulusan ODP tersebut akan ditempatkan pada beberapa divisi di Bank.

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI
Bank terus mengembangkan Teknologi Informasi (TI) secara berkala dan melakukan komunikasi dengan pemangku kepentingan untuk memastikan pengembangannya sesuai dengan kebutuhan nasabah dan Bank. Selama tahun 2020, pengembangan TI yang telah dilakukan sebagai berikut:
1. Business Process Efficiency Improvement
Sasaran yang ingin dicapai dalam perbaikan ini adalah peningkatan efisiensi operasional dan kualitas layanan serta membantu sistem pelaporan Bank.
2. Support Remote Working Under New Normal
Aktivitas yang dilakukan adalah terkait dukungan terhadap kelancaran dan tingkat keamanan data dari pelaksanaan Work from Home (WFH).
3. Paperless and Digital Document
Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk efisiensi dokumen operasional dan dalam rangka pelaksanaan Green Office dan Smart Office.

PENERAPAN TATA KELOLA PERUSAHAAN, TATA KELOLA TERINTEGRASI DAN MANAJEMEN RISIKO TERINTEGRASI
Konglomerasi Keuangan Grup Resona Bank dengan Entitas Utama yaitu PT Bank Resona Perdania (BRP) dengan anggota Konglomerasi Keuangan yaitu PT Resona Indonesia Finance (RIF) berkomitmen untuk meningkatkan pelaksanaan Tata Kelola Perusahaan yang baik karena masyarakat, investor dan konsumen menilai BRP dan RIF berdasarkan kriteria layanan, etika serta kualitas yang baik, profesional, proporsional, dan terlindungi dari praktik penyimpangan usaha.

Tata Kelola Terintegrasi telah menjadi perhatian khusus BRP dan RIF agar pelaksanaannya selalu berkesinambungan dari waktu ke waktu. Hingga akhir tahun 2020, pelaksanaan Tata Kelola Terintegrasi di Bank berfokus untuk merealisasikan tujuan-tujuan utama sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kinerja BRP dan RIF melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia yang pada akhirnya akan berdampak pada meningkatnya pelayanan pada pihak-pihak yang berkepentingan dengan Bank, yang tidak hanya terbatas pada nasabah, melainkan juga regulator (Otoritas Jasa Keuangan/Bank Indonesia), pemerintah, karyawan serta pemegang saham.
  2. Meningkatkan pengawasan aktif Dewan Komisaris dan tanggung jawab Direksi dalam menerapkan prinsip kehatihatian dalam menjalankan operasional perbankan.
  3. Meningkatkan peran seluruh organ tata kelola untuk melindungi BRP dan RIF dari potensi tuntutan hukum, sanksi dan risiko reputasi yang disebabkan oleh ketidaktaatan Bank dan RIF terhadap peraturan-peraturan yang berlaku.

BRP dan RIF telah melaksanakan prinsip-prinsip Tata Kelola Terintegrasi dan melakukan penilaian sendiri sesuai dengan undang-undang serta peraturan yang berlaku. Penilaian tersebut dilakukan sesuai skala, karakteristik dan kompleksitas usaha Bank pada seluruh elemen Tata Kelola Terintegrasi Bank dengan memperhatikan signifikansi serta materialitas secara menyeluruh. Elemen-elemen tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kecukupan struktur dan infrastruktur Tata Kelola Terintegrasi terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris, Direksi, Komite dan satuan kerja pada BRP dan RIF.
  2. Ketersediaan kebijakan dan prosedur BRP dan RIF.
  3. Sistem informasi manajemen.
  4. Tugas pokok dan fungsi masing-masing struktur organisasi.
  5. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
  6. Perlindungan terhadap nasabah.
  7. Kinerja rentabilitas, efisiensi dan permodalan.
  8. Pelanggaran peraturan prinsip kehati-hatian.

Secara umum, Konglomerasi Keuangan Grup Resona Bank telah menerapkan prinsip-prinsip Tata Kelola Terintegrasi dengan hasil penilaian peringkat 2 (BAIK). Konglomerasi Keuangan Grup Resona Bank telah melakukan pemenuhan yang memadai atas prinsip-prinsip Tata Kelola Terintegrasi yang tercermin dari kualitas hasil Tata Kelola Terintegrasi mencakup aspek kualitatif dan kuantitatif. Seluruh elemen pada struktur organisasi telah berjalan efektif seiring dengan transparansi laporan keuangan maupun non keuangan yang telah mencukupi. Kedepannya, Bank dan RIF akan melakukan perbaikan-perbaikan serta penyempurnaan terhadap kelemahan-kelemahan yang masih ditemukan dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut.

BRP sebagai Entitas Utama telah melaksanakan penerapan manajemen risiko terintegrasi berdasarkan POJK No.17/POJK.03/2014 dan SEOJK No.14/SEOJK.03/2015 tentang Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi bagi Konglomerasi Keuangan.

Selama tahun 2020, Entitas Utama telah melakukan proses penilaian Kualitas Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi dengan berpedoman pada 4 (empat) prinsip pokok yang diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan, yakni:

  1. Tata Kelola Risiko;
  2. Kerangka Manajemen Risiko;
  3. Proses Manajemen Risiko;
  4. Sistem Pengendalian Intern.

Hasil peringkat Risiko Intra-Grup Terintegrasi pada posisi 31 Desember 2020 berada pada peringkat 2.

Sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia (POJK) Nomor 45 /POJK.03/2020 tanggal 14 Oktober 2020 tentang Konglomerasi Keuangan, Bank tidak lagi memenuhi kriteria sebagai Konglomerasi Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) namun tetap merupakan Konglomerasi Keuangan dan melaksanakan seluruh kewajiban sebagai Konglomerasi Keuangan sampai dengan periode pelaporan posisi akhir bulan Desember 2020.

KEPEMILIKAN DIREKSI, DEWAN KOMISARIS, DAN PEMEGANG SAHAM DALAM KELOMPOK USAHA BANK
Pembahasan mengenai kepemilikan Direksi, Dewan Komisaris, dan Pemegang Saham dalam kelompok usaha Bank terdapat dalam bagian Profil Bank dan Tata Kelola Perusahaan yang termuat dalam Laporan Tahunan ini.

PERUBAHAN-PERUBAHAN PENTING PADA BANK DAN KELOMPOK USAHA BANK DI 2020
Selama tahun 2020, tidak terdapat perubahan-perubahan penting seperti akuisisi, merger, investasi, maupun divestasi pada Bank dan Kelompok Usaha Bank.

PERUBAHAN KOMPOSISI ANGGOTA DIREKSI
Sepanjang tahun 2020, Bank mengalami perubahan komposisi susunan Direksi, di mana pada tanggal 31 Agustus 2020, Bapak R. Djoko Prayitno efektif mengundurkan diri sebagai Direktur dan pada tanggal 23 September 2020, Bapak Hijiri Fujiwara efektif mengundurkan diri sebagai Direktur. Posisi Bapak Hijiri Fujiwara digantikan oleh Bapak Takeshi Yamasaki yang efektif menjabat sebagai Direktur berdasarkan Akta Notaris No.59 tanggal 23 September 2020. Pengunduran diri Bapak R. Djoko Prayitno ialah karena alasan pribadi dan pengunduran diri Bapak Hijiri Fujiwara dikarenakan Beliau menerima penugasan selanjutnya dari Resona Bank, Ltd.

Bank menyampaikan rasa terima kasih dan memberikan apresiasi kepada Bapak R. Djoko Prayitno dan Bapak Hijiri Fujiwara atas dedikasi yang diberikan selama menjabat sebagai Direktur dan mengucapkan selamat bergabung dan bekerja kepada Bapak Takeshi Yamasaki.

APRESIASI
Sebagai penutup, atas nama Direksi, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemegang saham, Dewan Komisaris, dan pemangku kepentingan lainnya atas kepercayaan yang telah diberikan. Saya juga menyampaikan terima kasih atas kerja keras, dedikasi, dan komitmen karyawan dalam memberikan upaya terbaik untuk membantu mewujudkan visi dan misi Bank Resona Perdania.

Saya senantiasa berkeyakinan bahwa kepercayaan dan dukungan yang diperoleh akan selalu menjadi motivasi bagi Bank untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik ke depannya. Bank akan senantiasa berkomitmen penuh untuk mencapai hasil yang maksimal berdasarkan kualitas kinerja dan pelayanan yang baik.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada OJK dan BI yang telah melakukan supervisi dan dukungan terhadap Bank Resona Perdania dan industri perbankan sepanjang tahun 2020.