Corporate Secretary

Pada 2019, Bank masih berfokus pada peningkatan kualitas aset, peningkatan jumlah nasabah, dan penyelesaian kredit bermasalah. Selain itu, Bank terus melakukan upaya perbaikan pada bidang sumber daya manusia, teknologi informasi, dan operasional bisnis. Rangkaian langkah strategis meliputi:

KREDIT
Strategi utama yang dilakukan Bank adalah memperluas basis nasabah (expand customer base), baik nasabah lokal maupun nasabah Jepang. Perluasan basis nasabah dapat mengurangi risiko konsentrasi kredit. Perluasan basis nasabah dilakukan melalui ekspansi data nasabah, sistem pemasaran yang efektif, serta bekerjasama dengan Grup Resona dan juga pemegang saham baru untuk menghasilkan sinergi yang positif bagi Bank.

a. Peningkatan eksposur nasabah Jepang:

  1. Untuk perusahaan Jepang yang baru didirikan, Bank akan mendukung pembiayaan mulai dari awal investasi mereka melalui kerjasama dengan Grup Resona dan pemegang saham baru.
  2. Melakukan pendekatan dan memelihara hubungan bisnis dengan perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di area/kawasan industri di mana kantor cabang pembantu Bank berada. Selain itu, Bank juga melakukan pendekatan bisnis dengan perusahaan-perusahaan Jepang di mana perusahaan induk telah memiliki hubungan bisnis dengan Grup Resona dan pemegang saham baru.
  3. Menjadi penghubung antara Customer to Customer (C to C) dengan memfasilitasi mereka untuk membangun aliansi bisnis baru.

b. Peningkatan eksposur nasabah lokal:

  1. Menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan dengan nasabah yang memiliki prospek usaha dan kondisi bisnis yang baik.
  2. Mengeksplorasi grup perusahaan dari debitur yang sudah ada.
  3. Mempertimbangkan untuk meningkatkan jumlah kredit sindikasi.

c. Peningkatan kualitas kredit

  1. Meningkatkan kualitas kredit dengan melakukan ekspansi kredit dengan prinsip kehati-hatian, menerapkan pemeringkatan kredit yang mencerminkan kondisi yang benar dan akurat atas kinerja nasabah/debitur, pemilihan sektor ekonomi yang sesuai dengan limit industri yang telah ditetapkan dan meningkatkan tingkat pengembalian kredit bermasalah.
  2. Memperpanjang fungsi Ad-hoc Team Of Monitoring and Immediate Recovery for Credit (ATOMIC) yang bertujuan:
  • Memaksimalkan pengembalian kredit dari kredit bermasalah yang dimiliki Bank dan yang sudah dihapus buku.
  • Mengelola rasio NPL gross dan NPL net.
  • Mencegah timbulnya calon debitur bermasalah Bank yang baru.

PERMODALAN
Strategi permodalan Bank di tahun 2019 adalah:

  1. Menjaga pencapaian kenaikan profit Bank.
  2. Meningkatkan kualitas kredit sehingga mengurangi beban penurunan nilai kredit.
  3. Bekerjasama dan bersinergi dengan seluruh pemegang saham untuk terus mengembangkan strategi pertumbuhan bisnis.
  4. Mengendalikan pembayaran dividen pada tingkat yang wajar dan yang dapat diterima oleh pemegang saham.

PENDANAAN
Mengoptimalkan sumber pendanaan yang dimiliki dengan meminimalisasi jumlah dana menganggur dengan mengejar pertumbuhan pada dana pihak ketiga dan menurunkan jumlah pinjaman dari bank lain.

OPERASIONAL
Selama tahun 2019, Bank terus berupaya meningkatkan standar kualitas pelayanan kepada nasabah dan meningkatkan sistem standar operasional Bank. Sebagai langkah peningkatan standar kualitas pelayanan kepada nasabah, Bank telah melakukan:

  1. Survei kepuasan nasabah dengan hasil sangat memuaskan dari sisi sumber daya manusia dan masih memerlukan peningkatan kualitas untuk proses transaksi dan fasilitas Bank;
  2. Pelatihan keahlian karyawan terkait dengan grafonomi, identifikasi dokumen dan tanda tangan palsu;
  3. Sosialisasi kepada nasabah mengenai peraturan Penerimaan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam (SDA) melalui pengumuman dan komunikasi bilateral;
  4. Persiapan proses untuk penyederhanaan dokumen/formulir yang digunakan dalam transaksi pembukaan deposito sehingga meningkatkan kenyamanan nasabah dalam bertransaksi.

Peningkatan sistem standar operasional Bank pada tahun 2019 ini dilakukan melalui persiapan pelaksanaan e-note, yaitu nota/advices dalam bentuk elektronik yang pendistribusiannya dikirimkan ke e-mail nasabah dan diharapkan pada tahun 2020 dapat efektif dilaksanakan.

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAN ORGANISASI
Dalam rangka pengembangan sumber daya manusia di tahun 2019, Bank meningkatkan efektivitas pelatihan karyawan dengan meningkatkan peran aktif instruktur internal Bank baik Kepala Divisi maupun Kepala Seksi, seperti melibatkan mereka sebagai mentor untuk Officer Development Program (ODP) selama masa On The Job Training. Selain itu untuk meningkatkan kemampuan sebagai instruktur internal, Bank mengadakan training for trainers untuk para Kepala Divisi, pelatihan telah diadakan pada bulan November 2019.

Lulusan peserta ODP angkatan pertama tahun 2018, saat ini telah bergabung sebagai karyawan pada bulan Juni 2019. Para lulusan peserta ODP tersebut ditempatkan di Divisi Business Development, Divisi Bisnis Stratejik, dan Divisi Tresuri, demikian pula di beberapa divisi pendukung bisnis seperti Divisi Credit Examination, Divisi Planning and Finance dan Divisi Manajemen Risiko.

Bank berencana akan meneruskan program ODP atau program sejenis untuk angkatan selanjutnya pada tahun 2020, sebagai kelanjutan program pengembangan Sumber Daya Manusia.

KEPATUHAN
Bank terus memperkuat penerapan prinsip-prinsip Tata Kelola Bank serta mempertahankan rating Tata Kelola Bank minimum di rating 2 atau Baik dengan meningkatkan budaya risiko dan budaya kepatuhan, mengurangi kejadian risiko operasional, tidak adanya temuan audit yang sifatnya berulang, baik dari Divisi Audit, Otoritas Jasa Keuangan maupun auditor eksternal. Bank juga meningkatkan fungsi kepatuhan pada PT Resona Indonesia Finance (RIF) sebagai perusahaan anak dengan melakukan diskusi bulanan.

Dalam rangka memastikan penerapan 5 (lima) prinsip dasar Tata Kelola yang Baik, yaitu: TARIF (Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, Fairness), Bank telah melakukan penilaian sendiri (self-assessment), yaitu penilaian terhadap kualitas manajemen Bank dengan memperhatikan signifikansi atau materialitas suatu permasalahan secara keseluruhan, sesuai skala, karakteristik dan kompleksitas usaha Bank.

Bank telah memiliki struktur dan infrastruktur tata kelola Bank yang baik dan memadai yang diperlukan dalam proses pelaksanaan prinsip Tata Kelola untuk menghasilkan outcome yang sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris, Direksi, Komite dan Satuan Kerja pada Bank, penerapan kebijakan dan prosedur, sistem informasi manajemen serta pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing struktur organisasi telah berjalan dengan baik dan efektif (governance process) sehingga menghasilkan outcome yang sesuai dengan harapan Pemangku Kepentingan.

Hal tersebut tercermin dari kualitas outcome mencakup aspek kualitatif dan aspek kuantitatif berupa kecukupan transparansi laporan keuangan maupun non keuangan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, perlindungan terhadap nasabah, hasil audit dan kinerja Bank yang senantiasa terjaga dengan baik.

Dalam periode pelaporan tidak terdapat fraud dan tidak terdapat pelanggaran terhadap peraturan prinsip kehati-hatian, meskipun terdapat beberapa kelemahan yaitu terdapat SDM yang belum memenuhi sertifikasi Manajemen Risiko yang dipersyaratkan regulator, perlu meningkatkan kualitas analisa kinerja debitur yang dilakukan secara periodik, beberapa Rencana Bisnis Bank yang tidak tercapai sesuai target, dan pengenaan sanksi kewajiban membayar dari regulator terkait kekeliruan pelaporan namun tidak signifikan dan dapat diselesaikan dengan tindakan normal oleh Manajemen Bank.

TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI
Untuk memberikan peningkatan standar operasional dan pengembangan sistem di Bank, serta dalam rangka peningkatan pemberian layanan baik secara internal dan eksternal kepada nasabah, Bank telah melakukan peningkatan dengan cara:

  1. Pada tanggal 13 November 2019 telah dimulai soft Go Live dengan deployment process pada server production. PSAK 71 Expected Credit Loss (ECL) telah diserahkan kepada OJK untuk posisi November 2019 dengan telah menggunakan perhitungan data dari Aplikasi PSAK 71.
  2. Pembaruan infrastruktur perangkat keras server dan perangkat jaringan.
  3. Penambahan aplikasi backup pada server backup di lokasi DRC Biznet Cimanggis.

MANAJEMEN RISIKO
Dalam rangka menciptakan budaya risiko yang sesuai dengan kondisi Bank dan menyesuaikan proses manajemen risiko dengan kompleksitas usaha, Bank berhasil mempertahankan peringkat komposit profil risiko Bank minimum peringkat 2 (Baik) untuk individu dan terintegrasi dengan melakukan:

  1. Kolaborasi dan menganalisa 9 (sembilan) risiko dengan risk owner yang terkait dengan profil risiko individual dan terintegrasi.
  2. Rapat Komite Manajemen Risiko yang membahas profil risiko individual kuartal 4-2018, kuartal 1-2019, kuartal 2-2019 dan kuartal 3-2019, selain itu juga turut membahas mengenai tinjauan atas parameter dan sub-parameter profil risiko individual dan terintegrasi serta melakukan tinjauan atas Pedoman Profil Risiko Bank.
  3. Rapat Komite Manajemen Risiko Terintegrasi yang membahas mengenai profil risiko terintegrasi semester 2-2018 dan semester 1-2019. Dalam rapat tersebut Bank berkolaborasi dengan perusahaan anak dalam menyediakan dan menganalisa data profil risiko terintegrasi.

Dalam merealisasikan strategi untuk memperkuat pengelolaan risiko pasar dan likuiditas, sepanjang tahun 2019, Bank telah melaksanakan:

  1. Implementasi atas penerapan manajemen risiko dan pendekatan standar pengukuran risiko untuk risiko suku bunga pada banking book (IRRBB) pada bulan Juli 2019 dengan menggunakan data per posisi Juni 2019.
  2. Persiapan sistem Net Stable Funding Ratio (NSFR) telah berjalan di tahun 2019 dan implementasi dijadwalkan akan terlaksana pada tahun 2020.

Bank aktif memantau dan meningkatkan pemahaman dan pelaksanaan “Budaya Risiko” di seluruh jajaran organisasi sepanjang tahun 2019 melalui kegiatan:

  1. Divisi Manajemen Risiko Bank melaksanakan rapat dengan Kepala Divisi dan Direksi yang Membawahkan dengan topik rapat adalah jumlah kejadian risiko operasional selama semester 2-2018 dan semester 1-2019. Rapat tersebut turut dihadiri oleh Presiden Direktur dan Wakil Presiden Direktur.
  2. Divisi Manajemen Risiko Bank melakukan sosialisasi kesadaran atas risiko operasional kepada seluruh Kepala Divisi yang tidak hanya berisi informasi mengenai kesadaran risiko operasional melainkan juga risiko-risiko lainnya serta sosialisasi mengenai data kejadian risiko operasional dan proses penilaian sendiri risiko operasional.
  3. Divisi Manajemen Risiko Bank menyampaikan laporan register risiko operasional tahun 2018 dan menyelesaikan laporan register risiko operasional tahun 2019.
  4. Divisi Manajemen Risiko Bank menyampaikan laporan kejadian risiko operasional tahunan 2019 dan bulanan dari Desember 2018 hingga Juli 2019.
  5. Divisi Manajemen Risiko Bank menganalisa data kejadian risiko operasional tahun 2018 dengan membandingkan data historis 5 tahun. Sejak Maret 2019, sosialisasi yang dilaksanakan tidak hanya mengenai data kejadian risiko operasional melainkan juga proses penilaian sendiri risiko operasional, berkolaborasi dengan Divisi Audit Internal.
  6. Divisi Manajemen Risiko Bank melakukan revisi atas sign board terkait kesadaran risiko operasional pada kuartal 1 dan 2 tahun 2019, serta menambahkan konten anti-fraud ke dalam materi yang ditayangkan.
  7. Divisi Manajemen Risiko Bank, sebagai bagian dari Tim Business Continuity Management (BCM), mempersiapkan Disaster Recovery Plan (DRP) dan BCM sehubungan dengan periode pemilihan umum (Pemilu) di tahun 2019. Meskipun situasinya tetap terkendali, Bank tetap menyiapkan lokasi cadangan untuk operasional Bank.
  8. Divisi Manajemen Risiko Bank berkolaborasi dengan Divisi Sumber Daya Manusia dengan meminta setiap Kepala Divisi dan Kepala Cabang untuk memastikan bawahannya agar dapat meningkatkan kesadaran operasional secara umum dan secara spesifik agar menurunkan kejadian risiko operasional.
  9. Divisi Manajemen Risiko Bank mengembangkan konsep budaya risiko pada semester 2-2019, di mana saat ini hanya fokus kepada risiko operasional. Konsep dan kesadaran budaya risiko harus melekat pada seluruh risiko, konsep ini harus diketahui oleh seluruh karyawan. Rencana selanjutnya adalah melaksanakan konsep “risk based pricing” untuk menganalisa Cost of Loanable Fund (CoLF) bekerjasama dengan Divisi Tresuri, Divisi Pengembangan Bisnis dan Divisi Bisnis Stratejik.
  10. Divisi Manajemen Risiko Bank melaksanakan forum manajemen risiko mengenai risiko teknologi informasi dan risiko sistem informasi.
  11. Divisi Manajemen Risiko Bank menyelesaikan analisa Basic Indicator Approach (BIA) pada November 2019 berkolaborasi dengan seluruh anggota tim BCM dan seluruh unit kerja.

Sepanjang tahun 2019, Divisi Manajemen Risiko juga telah melakukan:

  1. Analisa sektor ekonomi untuk limit portofolio bekerjasama dengan vendor yang ditunjuk secara triwulanan dan dipublikasikan pada web internal Bank yang dapat diakses oleh seluruh elemen Bank.
  2. Pengkinian atas Pedoman dan Kebijakan yang dimiliki, sejalan dengan adanya perubahan peraturan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan.
  3. Pemberian opini risiko sebanyak 146 memo terkait dengan kebijakan dan pedoman internal Bank, proposal produk dan aktivitas baru, likuiditas, Cost of Loanable Fund (COLF), fasilitas pendanaan antar bank, prosedur Business Continuity Management (BCM) terkait peristiwa kegagalan sistem.

AUDIT
Selama penugasan, Divisi Audit memberikan masukan untuk memperbaiki pengendalian intern Bank sebagaimana tercantum dalam setiap laporan audit. Selain itu, Divisi Audit selama tahun 2019 telah melaksanakan rencana bisnis antara lain:

1. Melaksanakan Audit Berbasis Risiko Tahunan untuk memberikan jaminan yang wajar dalam mencapai tujuan strategis Bank.

2. Mempromosikan peningkatan dan pengembangan pengawasan internal ke unit kerja lain untuk meningkatkan pengendalian internal yang memadai pada setiap proses dan meningkatkan pemantauan pada lini kedua (manajemen risiko dan kepatuhan) dengan cara:

  • Mendidik dan meningkatkan kesadaran dan pemahaman karyawan Bank tentang Manajemen Risiko, Pengendalian Internal dan Peningkatan Kualitas.
  • Pertemuan koordinasi rutin dengan Direktur Kepatuhan (termasuk Kepala Divisi Kepatuhan dan Kepala Divisi Manajemen Risiko) untuk memperkuat upaya koordinasi pada pemantauan Bank terhadap sistem pengendalian internal, manajemen dan tata kelola.

3. Meningkatkan kesesuaian metodologi audit dengan Standar Internasional yang dikeluarkan oleh Institut Audit Internal dan menjaga kepatuhan terhadap peraturan OJK atas Fungsi Audit Internal Bank Umum. Untuk mendukung rencana bisnis tersebut, Divisi Audit melakukan beberapa aksi, yaitu:

  • Melakukan perubahan untuk Piagam Audit dan telah disetujui oleh Presiden Direktur pada tanggal 12 April 2019 dan Dekom pada tanggal 2 Mei 2019.
  • Menyampaikan laporan kaji ulang secara independen yang dilakukan oleh RSM Indonesia terhadap kinerja Divisi Audit kepada OJK tanggal 14 Agustus 2019.

4. Meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan kompetensi auditor internal pada area audit:

  • Pelatihan Kesadaran Risiko Kredit.
  • Pelatihan Keamanan Dokumen.
  • Pelatihan Grafonomi.
  • Pelatihan Deteksi dan Investigasi Fraud.
  • Forum Kepatuhan sehubungan dengan Anti-Fraud.
  • Sesi sharing IIA (Institute of Internal Auditors) Indonesia sehubungan dengan “Perempuan dalam Profesi Audit Internal di Indonesia : Peluang dan Tantangan”.
  • Pelatihan Kredit Sindikasi.
  • Pelatihan Keuangan Berkelanjutan.
  • Sosialisasi Pelayanan Keluhan Nasabah.
  • Pertemuan Umum Anggota IIA (Institute of Internal Auditors) Indonesia.
  • Eksposur dan Diskusi atas Penerapan POJK Audit Internal.
  • Sosialisasi dalam MoneyLIVE Indonesia 2019: Inovasi yang Unggul: Menentukan Perbankan Indonesia di Masa Depan.
  • Pelatihan dan Sertifikasi Manajemen Risiko Level 3
  • Kursus dan Sertifikasi Internal Auditor.
  • Melakukan Sesi Berbagi Intern untuk POJK Nomor 1/POJK.03/2019.
  • Menghadiri Konferensi Nasional IIA (Institute of Internal Auditors) Indonesia sebagai moderator.
  • Pelatihan Green Office.
  • Pelatihan Proses Otomatisasi Robotik (WinActor).
  • Pelatihan Kualitas Asuransi untuk Fungsi Audit Internal.
  • Pelatihan Analisis Kredit.
  • Pelatihan untuk Pelatih Carnegie Leadership.
  • Pelatihan Pemalsuan Tandatangan dan Dokumen.
  • Sosialisasi Pengisian “Laporan Hasil Penilaian Kepatuhan (LHPK)”di Bank Indonesia.
  • Rapat Koordinator Kepatuhan terkait dengan peraturan eksternal baru untuk Kualitas Aset, Batas Pemberian Kredit, Devisa Hasil Ekspor, dan Devisa Pembayaran Impor.

5. Meningkatkan implementasi audit berkelanjutan dengan menciptakan auto-generated laporan audit berkelanjutan untuk mendukung tujuan APU-PPT dan PMN serta meningkatkan kemampuan Bank untuk melakukan pengawasan pengendalian.

6. Membantu dan mendukung kesesuaian kualitas yang sama dengan organisasi audit internal PT RIF. Divisi Audit telah mengomunikasikan permintaan kepada Komite Audit PT RIF (Komisaris Independen) dan Direktur Kepatuhan untuk menyelaraskan proses audit mereka dengan Kebijakan dan Prosedur Divisi Audit Bank mengikuti POJK Nomor 1/POJK.03/2019. Divisi Audit telah menerbitkan surat pada tanggal 1 Agustus 2019 kepada Direksi PT RIF tentang kewajiban mereka untuk mengikuti POJK Nomor 1/POJK.03/2019.

RENCANA STRATEGIS 2020
Memasuki tahun 2020, Bank Resona Perdania terus berupaya mewujudkan komitmen Bank untuk menjadi institusi perbankan yang mengutamakan pelayanan terbaik (service excellence) bagi nasabah dan mitra kerja. Untuk itu, Bank telah menentukan fokus strategi berikut:

  1. Menjaga atau meningkatkan peringkat komposit (PK) kesehatan Bank berdasarkan risiko (RBBR) minimum berada pada peringkat 2 atau Sehat yang di dalamnya termasuk peringkat komposit profil risiko dan peringkat penerapan Good Governance baik individual maupun terintegrasi dengan perusahaan anak PT Resona Indonesia Finance (PT RIF).
  2. Dalam mempertahankan peringkat komposit profil risiko dan peringkat Good Governance, Bank melakukan peningkatan pada:
    a. Fungsi kepatuhan termasuk di dalam mengelola risiko kepatuhan serta peningkatan Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) sesuai dengan peraturan yang berlaku.
    b. Fungsi manajemen risiko, di antaranya:
    1) Meningkatkan peran Divisi Manajemen Risiko dalam mendukung pencapaian Rencana Bisnis Bank khususnya terkait dengan penetapan risiko pada tingkat yang wajar dan fokus untuk menjaga kualitas kredit, mengamankan posisi likuiditas dan rasio CAR yang wajar.
    2) Meningkatkan peran Divisi Manajemen Risiko dengan melakukan review dan memberikan rekomendasi atas seluruh kebijakan dan prosedur Bank.
    3) Penguatan manajemen risiko pasar dan likuiditas dengan persiapan penerapan manajemen risiko dan pengukuran risiko pendekatan standar untuk risiko suku bunga dalam banking book (Interest Rate Risk in Banking Book) dan persiapan implementasi sistem aplikasi NSFR (Net Stable Funding Ratio).
    4) Melakukan kerjasama dengan Resona Bank, Ltd., Jepang untuk memperkuat pelaksanaan manajemen risiko.
    c. Fungsi audit internal, baik dari sisi sumber daya manusia maupun dari metodologi audit, dan
    d. Fungsi komite-komite dengan mengefektifkan peran komite-komite, baik komite yang mendukung tugas Direksi maupun Dewan Komisaris. Untuk mendukung hal tersebut, di antaranya Komite Audit diikutsertakan menjadi anggota Asosiasi Komite Audit Perbankan.
  3. Menerapkan keuangan berkelanjutan dengan skala prioritas pada pengembangan kapasitas intern Bank melalui lanjutan pelatihan pengembangan yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia.
  4. Mempertahankan model bisnis dengan porsi portofolio kredit kepada perusahaan Jepang dan lokal pada komposisi yang seimbang.
  5. Meningkatkan pangsa pasar nasabah corporate banking, baik nasabah korporasi Jepang maupun korporasi lokal melalui sistem pemasaran yang efektif serta dengan memberikan dukungan kepada nasabah melalui penawaran produk perbankan yang dibutuhkan oleh nasabah.
  6. Menerbitkan produk baru berupa:
    a. Negotiable Certificate Deposit (NCD) pada Semester II Tahun 2020. NCD diterbitkan dengan melihat kondisi pasar dan merupakan alternatif dari penerbitan MTN;
    b. Mobile Approver pada Triwulan III Tahun 2020 sebagai upaya peningkatan fitur internet banking;
    c. Mortgage Loan (KPR) pada Triwulan IV Tahun 2020 yang ditujukan kepada karyawan nasabah debitur.
  7. Melakukan beberapa aktivitas baru sebagai upaya diversifikasi bisnis dengan menjadikan Bank sebagai pemberi referensi terhadap produk pihak ketiga, dengan menjalin kerjasama dalam bentuk:
    a. Referensi Bancassurance terkait dengan produk Bank pada Triwulan II Tahun 2020, di mana Bank berencana untuk membentuk kerjasama dengan beberapa perusahaan asuransi kerugian untuk mengasuransikan aset jaminan debitur Bank.
    b. Referensi Lending Through FINTECH pada Triwulan II Tahun 2020, di mana Bank berupaya menjangkau pangsa pasar SME/Commercial, dengan menyediakan fasilitas pinjaman melalui perusahaan FINTECH (channeling) untuk menjangkau nasabah segmen SME/Commercial.
  8. Berpartisipasi dalam mendukung sektor ekonomi yang menjadi prioritas kebijakan pemerintah Indonesia, khususnya kelautan, pertanian, pariwisata dan infrastruktur. Secara khusus untuk infrastruktur, Bank akan tetap berupaya mengembangkan kredit sindikasi melalui kerjasama dengan bank lain serta lembaga keuangan multilateral lainnya.
  9. Meningkatkan kualitas kredit dengan:
    a. Melakukan ekspansi kredit dengan prinsip kehati – hatian.
    b. Menjaga kualitas portfolio kredit dengan pendekatan yang prudent terhadap manajemen risiko kredit.
    c. Menerapkan credit rating yang mencerminkan kondisi yang benar dan akurat atas kinerja nasabah/ debitur.
    d. Pemilihan sektor ekonomi sesuai dengan batasan industri yang telah ditetapkan.
    e. Meningkatkan tingkat pengembalian untuk kredit bermasalah.
    f. Meningkatkan kualitas kredit dengan melakukan review terhadap proses dan prosedur terkait aktivitas perkreditan.
    g. Monitoring penerapan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) yang baru dan credit ceiling.
  10. Meningkatkan infrastruktur Bank dengan:
    a. Menyederhanakan dan menstandarisasi proses bisnis dan operasional.
    b. Meningkatkan budaya kinerja perusahaan.
    c. Memperluas kemampuan pemberian kredit.
  11. Meningkatkan jumlah permodalan Bank dengan:
    a. Menjaga kualitas aset produktif, di antaranya melalui pemberian kredit yang memperhatikan prinsip kehati-hatian.
    b. Mencapai target laba setelah pajak.
    c. Mengontrol pembayaran dividen pada peringkat rasio yang wajar dan dapat diterima pemegang saham.
  12. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan:
    a. Merencanakan dan merekrut sumber daya manusia yang memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan Bank dan memiliki potensi untuk bisa dikembangkan.
    b. Melanjutkan pengembangan kemampuan/kompetensi sumber daya manusia baik dari sisi hardskill maupun softskill melalui pelatihan dan pendidikan secara berkelanjutan sesuai dengan sasaran yang akan dicapai.
    c. Meningkatkan keterikatan dan komitmen sumber daya manusia melalui program “employee engagement”, mengembangkan sistem non-financial reward, perbaikan sistem kompensasi dan jenjang karir karyawan.
    d. Meningkatkan pengetahuan sumber daya manusia khususnya pada manajemen risiko dan credit examination yang akan berkontribusi pada perbaikan kesadaran risiko kredit dan memelihara kualitas aset kredit pada tingkat yang sehat.
    e. Meningkatkan kemampuan para marketing officer dalam hal kesadaran risiko serta meningkatkan sensitivitas terhadap gejolak perubahan bisnis/usaha dan fluktuasi ekonomi.
    f. Meningkatkan kompetensi para analis melalui pelatihan yang terkait dengan kredit dan analisa finansial, sehingga mampu meningkatkan proses kualitas kredit.
    g. Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia pada fungsi kredit khususnya dalam hal mitigasi terhadap penilaian jaminan serta verifikasi kelengkapan dokumen.
    h. Mengembangkan rangkaian pelatihan yang dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan staf untuk menangani dan meningkatkan dukungan kepada nasabah melalui berbagai macam produk perbankan yang mutakhir.
    i. Melanjutkan pelatihan keuangan berkelanjutan untuk tim khusus yang menangani program keuangan berkelanjutan, serta melanjutkan sosialisasi kepada seluruh karyawan Bank.
  13. Meningkatkan aset Kantor Cabang Bandung dan Kantor Cabang Surabaya masing-masing sekitar 7,5% dari akhir tahun 2019.
  14. Memberikan kredit kepada UMKM yang dilakukan sesuai kemampuan Bank sebagai bank korporasi.
  15. Meningkatkan total aset dan total kredit di akhir tahun 2020, masing-masing sebesar 8,05% dan 8,81% dibandingkan akhir tahun 2019.
  16. Meningkatkan sumber dana murah, di mana total dana pihak ketiga di akhir tahun 2020 diproyeksikan tumbuh 9,85% dibandingkan akhir tahun 2019, menurunkan total pinjaman yang diterima sebesar 7,31% dari tahun 2019 (pinjaman yang diterima termasuk pinjaman subordinasi), serta menerbitkan surat berharga dalam bentuk MTN/NCD sebesar Rp500 miliar yang direncanakan pada semester II tahun 2020 dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian di Indonesia dan kebutuhan pendanaan Bank.
  17. Mempertahankan dan meningkatkan risk awareness yang sudah dibangun sehingga NPL gross Bank di bawah 2,50% dan NPL net Bank di bawah 2,00% dengan beban penurunan nilai sebesar Rp80,8 miliar.
  18. Pendapatan bunga bersih tetap menjadi pendapatan utama Bank dengan target sebesar Rp466,3 miliar.
  19. Peningkatan permodalan Bank bersumber dari laba setelah pajak, dengan target laba setelah pajak Bank sebesar Rp61,8 miliar dan target total modal KPMM sebesar Rp2,8 triliun.
  20. Optimalisasi penggunaan sistem informasi akuntansi untuk mendukung penyediaan laporan.
  21. Meningkatkan proses dan produktivitas Bank untuk mengurangi biaya operasional, meningkatkan fitur internet banking (Mobile Approver & Trade Finance System) serta melakukan implementasi teknologi sistem Electronic Audit Management System dan Loan Originating System, Teller System and SVS application (Retail Connection menjadi Equation Branch Automatication).
  22. Monitoring pelaksanaan aplikasi baru seperti aplikasi PSAK 71, aplikasi Net Stable Funding Ratio (NSFR), perbaikan untuk mengganti peralatan kritikal, peningkatan windows server operating system (OS) dan personal computer operating system (PC OS) ke versi yang terbaru, peningkatan aplikasi back up pada DRC Site, Data Mart for Reporting, Customer Satisfaction Survey, proses automasi dengan robotic system, implementasi Automated Deposit Yield Regular Transfer, implementasi formulir elektronik menggunakan kode QR, implementasi Loan Originating System, monitoring stabilitas implementasi Core Banking System yang baru, implementasi Trade Finance System dan peningkatan/penggantian penggunaan data warehouse yang saat ini digunakan.
  23. Meningkatkan fungsi sumber daya manusia dengan menguatkan sumber daya manusia pada setiap unit kerja, pengembangan sistem penghargaan dan sanksi, mekanisme evaluasi sumber daya manusia berbasis kinerja, pelaksanaan alih pengetahuan yang efektif dari tenaga kerja asing kepada tenaga kerja lokal, inovasi program pelatihan dan melakukan investasi secara agresif pada area sumber daya manusia.
  24. Memastikan kecukupan sumber daya manusia pada setiap unit kerja baik secara kuantitas maupun kualitas sehingga dapat mendukung aktivitas bisnis, operasional dan pelaporan Bank.
  25. Melanjutkan proses relokasi kantor pusat ke gedung baru di Jl. Jend. Sudirman kav. 40-41, Jakarta Pusat.